Skip to content

CIFP (Conference of Indonesian Foreign Policy) 2016: Indonesia Baru di Mata Dunia

Tanggal 17 September kemarin saya menghadiri acara CIFP (Conference of Indonesian Foreign Policy) 2016 di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasblanka, Jakarta. Di luar kebiasaan sebenarnya dan sudah cukup lama ga menghadiri acara seperti ini, cuma karena ini event gratis dan pembicaranya banyak yang menarik jadi kenapa tidak?

Ini untuk pertama kalinya juga saya ke kasablanka hall, baru tau ada venue sebagus ini di KOKAS (kokas singkatan dari  kota kasablanka, fyi), sebelumnya saya sudah menukarkan tiket pendaftaran dengan gelang yang berfungsi sebagai akses masuk. Saya berencana datang pagi sebenarnya tapi karena teman mengajak lari pagi, saya baru sampai di lokasi jam 10:30 atau 15 menit dari dimulainya sesi pertama dari rencana sebelumnya. Namun ternyata dari informasi panitia, acara molor sekitar 1jam dan di main hall masih berlangsung acara pembukaan, saya pun memutuskan untuk melihat-lihat booth dan mengambil booklet acara dan tak lupa shameless selfie.

unnamed

20160917_133657

img-20160917-wa0027

CIFP 2016 ini bentuknya adalah diskusi panel dan presentasi yang dilakukan secara simultan, ada empat ruangan di lantai atas dan main hall yang juga dijadikan sebagai tempat membuka dan menutup acara. Di sela-sela diskusi ada coffee break dan kebetulan sekali saat itu coffee break sudah disajikan, yay….freebies 🙂 ga berapa lama masuk whatsapp dari vidy teman saya yang baru datang. Ada beberapa booth di lokasi acara, sebagian besar adalah booth negara sahabat, yang saya lihat ada Australia, Korea dan China, ada juga booth dari sponsor dan Kemenlu.

Total ada 20 diskusi yang berbeda ditambah sesi pembukaan dan sesi pentupan yang menghadirkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saya menghadiri 4 rangkaian sesi dengan tema yang berbeda-beda, yang pertama mengangkat tema “Indonesia, the Islamic world and the West: the search for a meaningful rol in time of global Insecurity” pembicaranya Prof. H, Nasarudin Umar (Imam Masjid Istiqlal) , Prof, James Hoesterey (Akademisi dari AS) , Dr.Ruhainin Dzuhayatin (Wakil Indonesia untuk HAM OKI) dan Jamil M Flores (kolumnis Jakarta Globe). Tapi sayang karena waktu yang molor, Prof Nazar menyampaikan ‘presentasi’ (lebih tepatnya kultum) dengan terburu-buru, intinya sih agar kaum muda menjadi tameng terhadap radikalisasi Islam. Insight menarik di sampaikan oleh Prof, James Hoesterey yang mengatakan bahwa Islam di Indonesia merupakan model Islam moderat yang sesungguhnya dan berharap agar Indonesia memainkan peranan lebih besar di pentas dunia. Dr. Ruhainin Dzuhayatin menyoroti mengenai radikalisme Islam dan berharap ada inisiatif dari kaum muda agar tidak terpengaruh ajaran radikal, saya tidak terlalu mengamati apa yang disampaikan oleh Pak Jamil M, Flores karena beliau membaca secara ‘text book’ dan suaranya agak mumbling. Diskusi berlangsung cepat dengan 1 sesi tanya jawab. Sesi yang singkat menjadikan diskusi justru kurang ‘berisi’ terlebih bila pembicara yang diundang tidak menyajikan slide atau memberikan presentasi yang menarik.

20160917_121637

Selanjutnya saya berpisah dengan vidy dan memasuki ruangan berbeda, diskusi yang saya ikuti mengangkat tema ‘The ASEAN Economic Community Are We Ready? How Can We Better Compete and Excel in the AEC/MEA?” yang menghadirkan Airlangga Hartanto (Minister of Industry), Sudhamek (Garuda Food), Iwan Lukminto (Sritek) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) dan pejabat PEMDA DKI yang saya lupa namanya. Saya kebagian duduk di paling pinggir, sehingga agak sulit untuk menyimak diskusi dengan baik, tapi kali ini diskusi berjalan lebih mengalir walau hanya paparan dari Bupati Banyuwangi yang menarik. Beliau bercerita bagaimana mengurus daerah kecil seperti banyuwangi dengan pendekatan teknologi, beliau mengatakan bagaimana banyuwangi memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi dan juga sebagai alat manajemen yang efektif. Beliau bercerita dengan sangat ekspresif sambil sesekali menyelipkan canda, sementara pembicara yang lain -termasuk Pak Mentri-  lebih banyak berbicara tentang data, yang menurut saya kurang tepat dengan format acara yang singkat dan padat seperti ini. Saya tidak menyimak sesi tanya jawab karena memutuskan keluar ruangan lebih cepat.

Setelah break sholat, saya menghadiri sesi ketiga dengan tema “Global Trends That Indonesia Must Know About – and Get Ready For!” pembicaranya adalah Erik Meijer (Telstra), Sandiaga Uno, Wishnutama (Net), Noni Purnomo (Blue Bird) dan Nadiem Makarim (Gojek). Sebenarnya saya ingin menghadiri sesi diskusi yang menghadirkan Ibu Sri Mulyani (Menkeu) tapi saya memutuskan pindah, dan ternyata itu adalah keputusan tepat. Sesi ini merupakan higlight dalam acara ini-setidaknya bagi saya- presentasi nya dari setiap pembicara berbobot dan diskusi berjalan lancar karena di pandu anchor  Metro TV, Andini Effendie.

20160917_145648

Erik meijer sebagai pembicara pertama menyajikan slide yang sangat menarik, beliau memaparkan bagaimana teknologi telah banyak merubah kita dalam berinteraksi dan apa saja trend  yang akan berkembang karena perkembangan teknologi. Ada beberapa poin yang dia tekankan; storage: dimana di masa depan akan membutuhkan lebih banyak metode penyimpanan dan bagaimana pola penggunaan data oleh pengguna, big data: bagaimana peranan data dan pengumpulan data yang besar sebagai alat analisis,disinggung juga mengenai Internet of things: yaitu bagaimana benda benda semakin saling terkoneksi dengan platform online.

20160917_151204

Pembicara selanjutnya adalah Sandiaga Uno, yang berbicara mengenai peranan kaum muda, pengaruh teknologi bagi mereka dan trend yang melingkupinya. Walau di selingi dengan sedikit promosi dirinya sebagai calon kepala daerah, tapi paparan nya sangat lugas dan memberikan insight baru bagi saya. Mengenai trend sendiri, beliau menyampaikan bahwa teknologi yang akan berkembang pesat adalah yang terkait dengan kesehatan, dimana dimasa depan orang mampu di analisa dan di sembuhkan secara customized menggunakan data dari dirinya sendiri.

20160917_151335

20160917_152027

Wishnutama memaparkan mengenai masa depan media dan bagaimana dia justru meng –embrace  perkembangan teknologi dan bukan sebaliknya. Dia percaya bahwa TV tidak akan tergusur oleh media baru, karena kuncinya adalah pada konten/isi dan bagaimana dia memanfaatkan teknlogi bukan saja untuk bertahan tapi juga melesatkan diri. Setelahnya ada Noni Purnomo dari Blue bird, beliau menceritakan bagaimana dia dan perusahaan nya keep up dengan perkembangan teknologi dan bagaiman trend teknologi merubah pola manajemen sebuah perusahaan.

20160917_152757

Pembicara terakhir adalah Nabiel makarim dari gojek, dari pemaparan nya yang singkat, saya menyoroti mengenai saran dia bagi kaum muda untuk melakukan sesuatu yang mereka sukai, find passion dan mengenai perkembangan sharing economy. Bagaimana  ke depan bukan hanya transportasi atau tempat tinggal yang akan terlibat dalam sistem sharing economy, tapi juga kebutuhan hidup yang lain. Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab, ada yang menarik dari sesi ini, dari dua penanya ada satu yang terkesan ingin tampil dan meracau panjang lebar sampai harus di selak oleh moderator. Dengan intro yang panjang itu, intinya dia ingin bertanya mengenai apa yang seharusnya kaum muda lakukan bila ingin menjadi seperti pembicara, menariknya lagi dia memanggil pembicara dengan nama belakang saja…”uno” dan “tama” entah ingin terkesan akrab atau gimana 🙂

Sesaat setelah sesi ini berakhir, saya tidak mengikuti sesi lain, hanya menunggu di main hall setelah break sholat. Secara keseluruhan acara ini berlangsung dengan cukup baik, hanya ada cela di waktu pelaksaan yang molor dan banyaknya pantia yang terkesan bergerombol tanpa ada job desc yg jelas, selebihnya sudah cukup baik. Acara ini juga penyegaran buat saya, sudah lama ga menghadiri acara seperti ini, bringin back all the memory as a college student 🙂 Salut untuk semua panitia dan FPCI (foreign policy community of Indonesia), Excelsior!

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*